Guratan nasib terukir di dalam sebuah lembaran
Sunyi, senyap, sedih, silih bergantian
Menghiasi hari seperti mengolok
Membuka sisi kelam di sebuah kehidupan
Tak punya arti jiwa ini tercipta
Berkelumit dengan indahnya dunia fana
Tertawa terbahak melihatnya
Tangisan rintih jiwa menjalaninya
Kemanakah jiwa harus pergi
Meninggalkan hari-hari yang sepi
Menjalani hidup yang lebih berarti
Mengusir rasa sedih yang ada di hati
Tuk menjadi hamba yang lebih diberkati
Cinta datang membawa arti tenang
jiwa hilang telah kembali pulang
kenangan kelam tersibak oleh cahaya terang
seakan surga yang tiba-tiba datang
mimpi…
Apakah semua itu buah dari sebuah mimpi
apakah semua yang telah kulalui ini hanya sebuah ilusi
mimpikah jiwa yang ingin mempunyai arti
oh, sungguh pantaskah meratapi sebuah mimpi
Kekosongan yang belum sempat dijalani
Namun akhirnya satu hal yang hamba sadari
Jiwa dicipta bukan untuk bermimpi, jiwa dicipta untuk mengejar mimpi
Membuat sebuah ilusi mempunyai arti
Sampai datang panggilan ILLAHI
Minggu, 10 Oktober 2010
Sabtu, 04 September 2010
Kesendirian ku
Setip malam ku sendiri,,
Menanti pagi yang selalu pasti,,
Hanya ku pandangi kau bintang,,
Di dalam kesunyian ini,,
Ohh,,,
Mengapa kau tinggal kan diri ku,,
Ohh,,
Mengapa kau lupakan bayang-bayang ku,,
Terkadang kau lupa,,
Akan cinta ku,,
Menanti pagi yang selalu pasti,,
Hanya ku pandangi kau bintang,,
Di dalam kesunyian ini,,
Ohh,,,
Mengapa kau tinggal kan diri ku,,
Ohh,,
Mengapa kau lupakan bayang-bayang ku,,
Terkadang kau lupa,,
Akan cinta ku,,
Rabu, 01 September 2010
renungan ku
aku menulis sekarang
karena aku tahu tak lama akan sia-sia
aku berpikir sekarang
karena aku mempunyai banyak waktu setelah waktuku
hanya saja…
otakku kosong
tak ada yang berteriak…
tak ada yang berbisik…
bahkan tidak ada desahan nafas
apakah waktuku enggan disisiku?
pertanyaanku tidak masuk akal
karena aku tahu waktuku hanya milikku
tapi, aku tidak tahu bahwa dianya telah berubah
menekan kunci kekuranganku
dan membelai lembut tubuhku dengan taring racun
aku tidak berusaha untuk mencari kehidupan
karenanya sudah menjadi sesuatu yang berkabut
tidak ada rasa, tidak merasa
terbang dengan kelemahan yang dipaparkan
dan hilang seperti air yang diminum
inilah waktu setelah waktuku
waktu yang nyata
waktu yang sesungguhnya
dan…
persiapanku tidaklah berguna
harapanku tidaklah terduga
karena aku meninggalkan keinginanku pada akhir waktu permainanku
membiarkannya tanpa seseorang
jatuh pada karpet putih dengan suara menyayat hati
dengan genggaman tangan disekelilingnya,
dan garis perpisahan yang tak dapat diucapkan
aku meninggalkannya.
sekarang…
aku duduk menatapnya dari jauh
dan menunggu seseorang sepertiku mengambilnya kembali
karena aku tahu tak lama akan sia-sia
aku berpikir sekarang
karena aku mempunyai banyak waktu setelah waktuku
hanya saja…
otakku kosong
tak ada yang berteriak…
tak ada yang berbisik…
bahkan tidak ada desahan nafas
apakah waktuku enggan disisiku?
pertanyaanku tidak masuk akal
karena aku tahu waktuku hanya milikku
tapi, aku tidak tahu bahwa dianya telah berubah
menekan kunci kekuranganku
dan membelai lembut tubuhku dengan taring racun
aku tidak berusaha untuk mencari kehidupan
karenanya sudah menjadi sesuatu yang berkabut
tidak ada rasa, tidak merasa
terbang dengan kelemahan yang dipaparkan
dan hilang seperti air yang diminum
inilah waktu setelah waktuku
waktu yang nyata
waktu yang sesungguhnya
dan…
persiapanku tidaklah berguna
harapanku tidaklah terduga
karena aku meninggalkan keinginanku pada akhir waktu permainanku
membiarkannya tanpa seseorang
jatuh pada karpet putih dengan suara menyayat hati
dengan genggaman tangan disekelilingnya,
dan garis perpisahan yang tak dapat diucapkan
aku meninggalkannya.
sekarang…
aku duduk menatapnya dari jauh
dan menunggu seseorang sepertiku mengambilnya kembali
Senin, 23 Agustus 2010
PUISI
Biarkan ku pergi
Pergi untuk datang
Atau pergi untuk kembali…
Kan ku bacakan syair
Dari puisi yang ku tulis di puncak mahameru dessember lalu
Bersama sang siluet senja
Dan hamparan awan kapas yang membentang
Saat sang buana telah membiarkan ku merasakan keberdaannya
Rasanya inginku tarik violet dari sang Mega..
Disana ku gariskan berjuta harapan yang tertinggal
Bersama sang kawan
Bersama tangkai edelweiss yang berguguran
Aku dan kau
Sama-sama punya harapan
Aku dan kau
Sama-sama punya impian
Aku dan kau
Sama-sama punya cita-cita
Andaikan ku jatuh seperti tangkai edelweiss itu
Satu harapan dan impian ku adalah..
Kan ku bacakan berjuta puisi yang terpenat dalam dada
Dimana dulu ku pernah tersenyum karena senja
Dan ketika batu-batu nisan itu menjadi saksi
Saat nyanyian lagu MAHA MERU berkumandang
Akan ku tetap disana
Terdiam berangan-angan
Tetap hidup untuk mencintai Bumi
Mencintai kebebasan
Pergi untuk datang
Atau pergi untuk kembali…
Kan ku bacakan syair
Dari puisi yang ku tulis di puncak mahameru dessember lalu
Bersama sang siluet senja
Dan hamparan awan kapas yang membentang
Saat sang buana telah membiarkan ku merasakan keberdaannya
Rasanya inginku tarik violet dari sang Mega..
Disana ku gariskan berjuta harapan yang tertinggal
Bersama sang kawan
Bersama tangkai edelweiss yang berguguran
Aku dan kau
Sama-sama punya harapan
Aku dan kau
Sama-sama punya impian
Aku dan kau
Sama-sama punya cita-cita
Andaikan ku jatuh seperti tangkai edelweiss itu
Satu harapan dan impian ku adalah..
Kan ku bacakan berjuta puisi yang terpenat dalam dada
Dimana dulu ku pernah tersenyum karena senja
Dan ketika batu-batu nisan itu menjadi saksi
Saat nyanyian lagu MAHA MERU berkumandang
Akan ku tetap disana
Terdiam berangan-angan
Tetap hidup untuk mencintai Bumi
Mencintai kebebasan
Langganan:
Postingan (Atom)


