Rabu, 17 Desember 2014

Puli Skubek Drag Bike Vs Road Race



 Top-speed, alur roller dibuat sampai naik
Pengguna matik banyak yang pe­ngin kencang. Akhirnya banyak yang asal beli puli atau rumah roller. Main ikutan tanpa tahu fungsi dan kegunaan puli itu.

Seperti kebutuhan untuk trek panjang dan pendek, berbeda spek. Puli untuk trek panjang seperti di drag bike. Ada juga puli untuk trek pendek seperti di road race.

Tergantung juga pada kapasitas mesin yang digunakan. Jangan caplok puli untuk drag kalau motor masih standar atau hanya 130 cc. Dipastikan tarikan awal malah akan jadi lebih loyo.

Dalam memilih atau modifikasi puli, bisa tanya kepada mekanik road race dan drag bike. Yuk ditanya.

Balap road race, kebanyakan didukung trek pendek. Panjang trek lurus di bawah 200 meter. Banyak tikungan dan trek-trek pendek kurang dari 100 meter.

Kalau trek macam begini, setingan mesin harus dibuat mudah teriak. “Agar rpm mesin cepat melonjak. Kalau di motor bebek dibuat seperti dikopling,

Untuk mengakali agar teriak di rpm bawah, Mian pasang ring tambahan di puli depan. Aslinya hanya satu ring, ditambah jadi dua ring. Atau bikin ring sendiri yang lebih tebal. Yang penting bisa dipasang.


 Road race. Ring rumah roller dipasang 2 atau 1 tapi tebal
Bagi yang tidak senang modifikasi, bisa juga beli puli yang sudah jadi. Namun puli untuk trek pendek ini memang susah dilacak. Seperti buatan Kawahara ada puli K3 untuk Mio. Satu set terdapat puli, tutup puli (besi) dan dilengkapi roller Fino.

Puli ini aslinya memang untuk drag bike. “Kalau untuk road race, rollernya diganti pakai punya Mio,” timpal Mariasan Kocek, mekanik JP Racing. Sehingga mesin lebih bisa diajak berteriak ketika akselerasi karena celah roller yang longgar.

Kalau mau modifikasi puli standar untuk keperluan drag bike, tentunya tetap bisa saja. Terutama motor yang sudah kena sentuhan bore up. Caranya cukup dengan memotong bushing dudukan puli rumah roller. Memotongnya cukup 1-2 mm atau secukupnya. Tergantung kemaun dan keperluan mekanik.

Cara murah-meriah ini banyak dite­rapkan mekanik balap liar atau drag bike. Supaya v-belt bisa terangkat tinggi dan top-speed melonjak. Namun putaran bawah atau akselerasi rada berat karena belt sudah terjepit puli.

 Buat drag bike atau trek panjang, bushing dipotong
Puli juga ikutan dimodifikasi. Alur roller dibuat sampai atas. Sehingga roller bisa naik dan top-speed yang diinginkan bisa jadi lebih bertambah.

Bagi yang pengin langsung caplok puli beli jadi, banyak juga. Karena buatan Thailand kebanyakan direkomendasi untuk drag dengan trek panjang.(m plus)

Memaksimalkan Power Honda Karisma

Akhirnya gw memilih untuk berganti motor dari 110cc ke 125cc, tentunya juga pindah aliran dari garputala ke sayap..

Diawal gw pake nih motor kok kayaknya ga gesit, ga bertenaga.. beda lah dan tentunya lebih spontan yang 110cc, ada apa gerangan?

Rasa penasaran tinggi dan selalu ingin mencoba yang baru *memuji diri sendiri* akhirnya satu persatu jeroan motor gw bongkar, dibantu sang Google untuk materi referensi..

Secara teori, spek karisma sbb:
Mesin
Diameter x Langkah
52,4 mm x 57,9 mm

Volume Langkah

124,9 cc

Kompresi

9,0:1

- Klep Masuk Buka

2 Derajat sebelum TMA
- Klep Masuk Tutup

25 Derajat sebelum TMB
- Klep Keluar Buka

34 Derajat sebelum TMA
- Klep Keluar Tutup

0 Derajat sebelum TMB

Transmisi

Reduksi Primer 67/20
Reduksi Final / Sproket 34/14

Gigi 1 35/14

Gigi 2 31/20
Gigi 3 23/20
Gigi 4 24/26

Karburator

ID Karbu APBF0A
Keihin 18 mm
Main Jet #75A
Pilot Jet #35
Pembukaan Skrup Pilot 1 - 7/8 Putaran Keluar
Tinggi Pelampung 11,7mm
Putaran Stasioner 1.400 rpm

Power
Daya maksimum 9,3 PS/7500 rpm
Torsi maksimum 10,1 N.m/4000 rpm
courtesy; google.com

Kalkulasi spek diatas pake software..

( a )

( b )
Gambar (a) pake piston standar, dan gambar (b) piston udah oversize 0.75

Gearbox standar, next project mau coba2 ganti gigi sekunder aftermarket... katanya sih di ciputat banyak..

Hitungan Knalpot yang ideal versi software (a theory between brains)


Tinggi Kem Ideal (kem keluar, kem masuk)


Power yang didapet, gambar (a) pake piston std + CDI Pabrikan, gambar (b) piston yang udah di oversize 0.75 + CDI Rextor Tuneable

Hasil:
Spek STD dengan hitungan sofware, tenaga yang didapet: 5,33 HP
Spek POWER dengan hitungan sofware, tenaga yang didapet: 6,85 HP

so mau balap apa mau ngantor? :D

KESIMPULAN:
Setingan diatas ada 2 jenis, STD vs POWER

Spek STD:
- Piston std
- Noken As std
- Klep + Per std
- Karbu Keihin std
- Knalpot std
- Pengendara std.. :P

Spek POWER
- Piston o/s 0.75 aseli honda karisma
- Noken as modifan, di papas sesuai tinggi lobe dari hitungan sopwer diatas
- Klep + Per Klep aseli honda sonic
- Karbu Keihin PE24 + PJ MJ bawaan std
- Knalpot mengacu ke hitungan sopwer atas, thanks mas teguh udah sabar buatin itungan yang presisi.. bikin knalpot ini di pondok kelapa samping pomp bensin, kalo dari arah kalimalang, sebelah kanan persis deket pom bensin.. sangat2 recommended nih bengkel knalpot!! alat2nya lengkap cing.. total jendral buat nih knalpot 3 hari presisi dan rapih!!
- Pengendara ... heheh std :D

Saat ini risma gw pake spek POWER, bensin yang diisep kurang lebih 30km/liter cukup lah buat nganterin gw ngantor tambun - mampang ngelibas sisi kalimalang :) (termasuk irit buat spek begini) <-- katanya.. Kopling? otomatis aja.. Kanpasnya? std... Per nya? std dah.. Thanks to: My Lovely Software, PowerSpeed (1995) Rextor Tuneable CDI http://www.rextor-tech.com/index.php?option=com_content&task=view&id=40&Itemid=41 Online Converstaion Calculation http://www.convert-me.com/en/convert/power BMEP Definiton & Calculation http://www.epi-eng.com/piston_engine_technology/bmep_performance_yardstick.htm

Selasa, 16 Desember 2014

Batas aman RPM mesin BORE UP & STROKE UP



Berbicara motor korekan,drag atau liaran... jangan di tanya lagi soal putaran mesinya....kalo bisa sih setinggi-tingginya jika mesin mampu berteriak....apalagi anak liaran yang penting gaspoll dulu ga perduli motor sanggup atau tidak ujung-ujungnya jajan lagi-jajan lagi....hehehe kebanyakan si seperti itu...nah pola pikir seperti itu kalo bisa di hilangkan...sekarang jamanya informasi by data....jadi jika kita telah mengalami kesalahan ...kita cari dong solusinya jangan terus-terusan mengulangi kesalahan ok....kalo motor standar dari pabrikan sih udah di tentuin limiter rpm, bore dan strokenya ....jadi sudah pasti aman kalo di geber trus-trusan mesinnya.....





Nah sekarang bagaimana kalo mesin motornya sudah di modif abis-abisan...dari bore up struk up sampai mengganti cdi dengan yang limitnya lebih tinggi bahkan sampai non limit....???? bagaimana cara kita mengetahuinya kalo mesin yang udah kita korek tersebut masih dalam tahap aman.....??? bukan bermaskud untuk menggurui nih sob....kami hanya menyampaikan cara yang sudah ada namun dengan penyampain yang berbeda...masih menganut rumus lama untuk mencari batas aman rpm mesin terhadap mesin korekan kawan-kawan semua.... apa lagi yang spek mesinya uda bebasan...yang sehernya segede-gede gaban dan strukan setinggi tiang listrik ups.....
Mungkin sebagian dari kawan-kawan sudah tau atau ada juga yang tidak.....bahwa piston memiliki kecepatan Ideal atau Piston Speed (PS) pada angka 21 meter/ detik atau = (21m/s) pada mesin Standar ...artinya jika kecepatan piston bergerak di atas angka 21m/s dapat di pastikan piston akan rawan jebol ...harap di ingat ini piston Speed " IDEAL " artinya masi bisa kurang atau lebih simak tabel piston speed bErikut.

Dan cara untuk menghitung Kecepatan Piston Kendaraan di dapat dengan Menggunakan Rumus:
( 2 x Stroke (dalam satuan meter) x Rpm)/60

Keterangan :
- Angka 2 merupakan gerak naik turun piston saat mesin berputar 1 x putaran penuh.
- Stroke / langkah piston (satuan ukuran langkahnya di rubah dari milimeter ke cm)
- RPM mesin yang ingin di tentukan batas amanya.
- 60 adalah RPM (Rotari per Menit) di rubah menjadi Detik (second) 1 menit = 60 detik

Karna pada ulasan ini mencari batas aman untuk itu kami menggunakan angka 21 m/s sebagai limit ideal piston speednya karna kebanyakan motor-motor yang kita oprek dan komponen partnya memiliki basic mesin standar ...tentunya biar tidak menyesatkan para pembaca dan terjadi mal praktek pada mesin anda hehe....Namun jika teman-teman tetap mau berpatok pada tabel di atas pun monggo/silahkan tapi pajak di tanggung pemenang....hehe

Coba hitung bareng-bareng kawan
1. Contoh mesin bore up yang paling umum....Mio 58 nan standar





Diketahui :
- Stroke standar mio : 57 mm
- Piston bore up : 58 mm (diameter piston tidak masuk dalam hitungan rumus hanya berlaku sebagai keterangan tambahan)
- Batas Rpm yang ingin di tentukan contoh :12000 rpm
Jawab :
( 2 x Stroke (dalam satuan meter) x Rpm)/60
2 x 0,057 x 12000 / 60 = 22,8 m/s .....Nah kelewatan angka ideal piston speednya yang seharusnya 21 m/s
Cara mengatasinya bisa menurunkan limit RPMnya jika menggunakan CDI racing programmable ...kalo CDI standar tergantung Limitnya yang di patok oleh pabrikan...namun jika di patok di bawah 11.000 rpm di rasa masih aman khususnya Spek 58 nan Standar karna angka yang di dapat adalah :
2 x 0,057 x 11000 / 60 = 20,9 m/s

2. Contoh motor yang aplikasi mesin Bore up dan Stroke up biar aman yu kita cari Piston Speed Idealnya Contoh motor Satria FU Spek Slembaran atau bebasan






Diketahui :
- Stroke up fu : 55 mm
- Piston bore up : 70 mm (diameter piston tidak masuk dalam hitungan rumus hanya berlaku sebagai keterangan tambahan)
- Batas Rpm yang ingin di tentukan contoh :12000 rpm
Jawab :
( 2 x Stroke (dalam satuan meter) x Rpm)/60
2 x 0,055 x 12000 / 60 = 22 m/s .....Nah kelewatan angka ideal piston speednya yang seharusnya 21 m/s Cara mengatasinya bisa limit RPM nya diturunkan jika menggunakan CDI racing programmable atau bisa juga dengan menurunkan panjang strokenya...Contoh Stroke nya di pendekin menjadi 54 mm maka : 2 x 0,054 x 12000 / 60 = 21,6 m/s
Biar ga pusing ngitunganya IBLJ nyediain juga Link Piston Speed kalkulator tinggal masukin angkan-angkanya lihat hasilnya akan muncul pada tanda lingkaran merah gambar di bawah


Kawan-kawan juga bisa menggunakan rumus di atas untuk spek motor lainya dengan data-data angka yang telah di ketahui terlebih dahulu .....Semoga saja Kawan-kawan dapat lebih teliti dalam menganalisa korekan mesinnya masing-masing dalam setiap langkah-langkahnya...Tanpa bermaksud untuk menggurui kurang lebihnya mohon maaf

           Perbandingan Gigi Rasio

YAMAHA TZ – 125 R,YAMAHA YZ –
125
1. 15 – 30 = 1. 13 – 32=30.5 % -- 27. %
2. 21 – 31 = 2. 14 – 26=20.5 % --
18.8 %
3. 23 – 28 = 3. 16 – 24=12.9% --12.9 %
4. 27 – 27 = 4. 20 – 25=9.1 % -- 9.1 %
5. 23 – 23 = 5. 19 – 21=7.7 % -- 7.4 %
6. 27 – 25 = 6. 20 – 20

RX – KING (5 PERCEPATAN)
1 2 – 34 =
1. 13 – 32 =36 %-- 30.7%
2. 16 – 30=
2. 17 –29= 24.5%-- 22.9 %
3. 19 – 26 =
3. 19 – 25 =20.3 %--17.1 %
4. 22 – 24 =
4. 22 – 24 =16.0 %--12.3 %
5. 24 – 22 =
5. 23 – 22 =

YAMAHA RX – Z
1 2 – 34 =
1. 15 – 31=
1. 15 – 32=1. 14 – 32
2. 16 – 29 =2. 18 – 28=
2. 18 – 28=2. 17 – 27 =
3. 19 – 24=3. 19 – 24=3. 19 – 24 =
4. 20 – 22=4. 20 – 22 =
5. 23 – 23 =
6. 24 – 22 = 6. 26 – 24=6. 27 – 25

KAWASAKI NINJA (6 PERCEPATAN)
1 0 – 27=1. 10 – 24 =
--------- 36.8 %
2. 17 – 29 = 2. 18
– 29 =
-------- 23.8 %
3. 20 – 26 = 3. 20
– 25 =
-------- 16.1 %
4. 22 – 24 = 4. 22
– 23 =
-------- 12.7 %
5. 21 – 20 = 5. 21
– 20 =
--------- 9.3 %
6. 22 – 19 = 6. 21
– 19

GIGI RASIO SATRIA F (1:13/31)
(2:24/T) (3:25/T) (4:STD) (5:22/T) (6:21/T)


Yamaha Jupiter/Vega

Spoiler for :

#drag race big bore edition < 170 cc.
1st gear 14-35

2nd gear 16-28

3rd gear 21-29

4th gear 20-22

#drag race big bore edition > 170 cc
1st gear 13-30

2nd gear 17-27

3rd gear 19-24

4th gear 21-22


#road race
1st gear 13-36

2nd gear 16-29

3rd gear 21-29

4th gear 23-26/20-22


Yamaha F1ZR

Spoiler for :




#standar engine without special ignition kit
1st gear 13-36

2nd gear 17-28

3rd gear 20-24

4th gear 22-23


#tuneup engine with special racing kit ignitions
1st gear 14-30

2nd gear 18-27

3rd gear 20-24

4th gear 22-12


Yamaha RX King

Spoiler for :




1st gear 13-32 / 14-32

2nd gear 16-29 / 17-29

3rd gear 19-25

4th gear 22-23

5th gear 23-22


Kawasaki Ninja 150 R/RR

Spoiler for :

1st gear 15-32 or special for racing kit rotor 16-32

2nd gear 18-29 or 17-28


Suzuki Satria 120R

Spoiler for :

5th gear 20-19

6th gear 21-18


Suzuki Satria 150F

Spoiler for :

#road race
1st gear 13-32

2nd gear 16-26

3rd gear 19-25

4th gear 21-23

5th gear 23-22

6th gear 25-23

# drag race 201/402 m
1st gear 13-31

2nd gear 14-24

3rd gear 19-25

4th gear 21-23

5th gear 23-22

6th gear 25-21


YUPITER 11O STD CLOSE RATIO
1 13 – 38 = 3.166 1. 13 – 36 = 2.769 1. 13 – 36 =
-------33.8 % ------ 33.8 % --- 1.224 = 38.6 %
2. 17 – 33 = 1.942 2. 18 – 33 = 1.833 2. 18 – 33 =
--------24.7 % ------ 24.7 % ---0.562 = 28.9 %
3. 21 – 29 = 1.380 3. 21 – 29 = 1.380 3. 21 – 29 =
--------18.1 % --------17.2 % ----0.285 = 20.6 %
4. 21 – 23 = 1.095 4. 21 – 24 = 1.142 4. 23 – 26 =

YUPITER MX 135
1 12 – 34 = 2.833 1. 12 – 32 = 2.666
------32.0 % -------0.958 = 33.8 %
2. 16 – 30 = 1.875 2. 16 – 29 = 1.812
, -------22.1 % ------0.523 = 27.8 %
3. 17 – 23 = 1.352 3. 17 – 24 = 1.411
--------18.4 % --------0.307 = 22.7 %
4. 22 – 23 = 1.045 4. 20 – 23 = 1.150



SHOGUN 125 STD


1 13 – 33 = 3.000 1. 13 – 30 = 2.307 1. 13 – 31 =
------1,215 = 40.0 5 -------27.7 %
2. 14 – 25 = 1.785 2. 15 – 25 = 1.666 2. 15 – 25 =
---0.491 = 27.5 % ----------- 22.3 %
3. 17 – 22 = 1.294 3. 17 – 22 = 1.294 3. 17 – 22 =
-- -----0.242 = 18.0 % ------------14.6 %
4. 19 – 20 = 1.052 4. 19 – 21 = 1.105 4. 19 – 21 =



NEW SMASH


1 13 – 33 = 3.000 1. 13 – 33 = 1. 13 – 30 = 1. 13 – 30 =
-----31,1 % ---1.125 = 37.5 %
2. 16 – 30 = 1.875 2. 16 – 28 = 2. 15 – 25 = 2. 16 – 28 =
------21.8 % ------ 0.507 = 27.0 %
3. 19 – 26 = 1.368 3. 19 – 26 = 3. 17 – 23 = 3. 17 – 23 =
-----15.4 % -----0.316 = 23.1 %
4. 19 – 20 = 1.052 4. 19 – 22 = 4. 19 – 20 = 4. 19 – 21 =

HONDA SUPRA



1. 12 – 34 = 2.833 1. 12 – 31 = 2.583 1. 13 – 31 = 2.384
-------- 1.128 = 39.8 % ---------33.9 % ----32.4 %
2. 17 – 29 = 1.705 2. 17 – 29 = 1.705 2. 18 – 29 = 1.611
----0.467 = 27.3 % ----- 23.7 % ------23.1 %
3. 21 – 26 = 1.238 3. 20 – 26 = 1.300 3. 21 – 26 = 1.238
----0.285 = 23.0 % ------19.6 % ------- 15.5 %
4. 24 – 23 = 0.958 4. 22 – 23 = 1.045 4. 22 – 23 = 1.045


1 12 – 31 = 2.583 1. 12 – 32 = 2.667
----------33.9 % ----------------36.0 %
2. 17 – 29 = 1.705 2. 17 – 29 = 1.705
-----------24.6 % ---------------24.6 %
3. 21 – 27 = 1.285 3. 21 – 27 = 1.285
-----------18.6 % ---------------18.8 %
4. 22 – 23 = 1.045 4. 22 – 24 = 1.043

KARISMA / SUPRA X

1 14 – 35 = 2.500 1. 14 – 34 = 2.428
----------0.950 = 38.0 5 -----------30.6 %
2. 20 – 31 = 1.550 2. 19 – 32 = 1.684
----------0.400 = 25.8 % ----------- 21.9 %
3. 20 – 23 = 1.150 3. 19 – 25 = 1.315
----------0.227 = 19.7 % ------------16.3 %
4. 26 – 24 = 0.923 4. 20 – 22 = 1.100


KAZE / BLITZ

1 12 – 36 = 3.000 1. 13 – 36 = 2.769
-----1.063 = 35.4 % ----------34.1 %
2. 16 – 31 = 1.937 2. 17 – 31 = 1.823
-----0.587 = 30.3 % ----------25.9 %
3. 20 – 27 = 1.350 3. 20 – 27 = 1.350
---------0.264 =19.5 % ----------19.5 %
4. 23 – 25 = 1.086 4. 23 – 25 = 1.086



YAMAHA F 1 ZR


1 12 – 39 = 3.250 1. 14 – 30 = 2.142 1. 14 – 31 =
-----1.438 = 44 % ------32.5 %
2. 16 – 29 = 1.812 2. 18 – 26 = 1.444 2. 18 – 27 =
-------0.612 = 33.7 % ---16.8 %
3. 20 – 24 = 1.200 3. 20 – 24 = 1.200
------ 0.155 = 12.9 % ------ 12.9 %
4. 22 – 23 = 1.045 4. 22 – 23 = 1.045

            Cara Menghitung Rasio Kompresi



Rasio kompresi merupakan perbandingan volume ruang bakar saat piston di titik mati bawah (TMB ; ketika piston berada di titik paling jauh dari kepala silinder) dengan volume ruang bakar saat titik mati atas (TMA ; ketika piston berada di titik paling dekat dari kepala silinder). Semakin besar perbandingan rasio kompresi maka saat piston berada di TMA akan memiliki tekanan dan suhu yang semakin besar pula.












Kenapa kita harus mengukur rasio kompresi mesin?



Karena Kebocoran Kompresi itu sendiri yang harus di perbaiki
Untuk Menambah kecepatan kendaraan
Mengetahui rasio kompresi mesin kendaraan, untuk mengatur bahan bakar yang sesuai untuk kendaraan itu sendiri


Sebagai perawatan terhadap kendaraan

Biasanya motor standar pabrik yang normal, tekanan kompresinya 7-9 kg/cm². Atau bahkan bisa sampai 12 kg/cm². Jika kurang dari 7 atau 6 kg/cm², motor dipastikan susah hidup dan bahkan mogok.

Cara menghitung kompresi/compression mesin motor 4tak

Cara menghitung kompresi dari sebuah sepeda motor. biasanya dari brosur sepeda motor baru sudah tercantum berapa kompresi dari motor tersebut. sebagai contoh motor yamaha jupiter memiliki kompresi 1:9.4. bagaimana cara mencarinya. rumusnya sbb:


(VB+VC)/VB dimana :


VB = volume silinder

VC = volume bahan bakar


Contoh :

Yamaha memiliki volume silinder 115 CC. dan memiliki volume ruang bakar 13.85 CC yang didapat dengan menggunakan alat yaitu buret untuk mengisi ruang bakar melalui lobang busi dengan cairan pada saat posisi piston berada di TMA ( titik mati atas) juga bisa menggunakan bekas suntikan dokter yang memiliki ukuran cc. bila dihitunng:


(115+13,58)/115 = 9,333



Perbedaan tekanan kompresi dengan rasio kompresi


Tekanan kompresi dipakai untuk mengukur tekanan yang terjadi diruang bakar dengan tujuan :



Untuk mengetahui tekanan kompresi motor sehat (standar)
Lalu membandingkan dengan tekanan kompresi yang udah terpakai.


Jika tekanan kompresi udah berkurang maka, kemungkinan disebabkan beberapa hal :



Ring piston bocor/sudah aus
Klep juga bocor
Gasket head bocor
Terjadi kebocoran di dalam ruang bakar tetapi tdk keluar melainkan ke dalam mesin itu sendiri, terutama pada bagian sebelah timing chain (keteng)


Perbandingan kompresi Istilah ini lebih dikenal dengan Static Compression ratio (SCR) atau perbandingan kompresis statis.

SCR harus ditentukan sesuai dengan oktan bahan bakar yang akan dipakai. Jika SCR terlalu tinggi maka akan terjadi detonasi atau ngelitik. Hal ini akan menyebabkan mesin over head dan tenaga mesin menjadi drop.

Dan yang lebih fatal, maka piston akan pecah

Ukuran Stang Seher, Pen atas & Pen Bawah Motor Standat



KETERANGAN :

  • P   = Panjang stang Seher/Piston
  • SP = Ukuran pen Seher/Piston
  • BP = Ukuran pen bawah / Big end

HONDA

HONDA  BEAT

  • P:93
  • SP:13 
  • BP:25
HONDA VARIO,CBS
  • P:93
  • Sp:13
  • Bp:26
HONDA C-70 
  • P : 91.5
  • SP : 13
  • BP : 23

HONDA C-90 

  • P : 91
  • SP : 15
  • BP : 23

Astrea/ star/prima/grand/impresa 

  • P : 94
  • SP : 13
  • BP : 25
 Honda cs 1 
  • P : 91
  • SP : 13
  • BP : 28

Legenda 

  • P : 97
  • SP : 13
  • BP : 25

Karisma 

  • P : 100
  • SP : 13
  • BP : 25

CB 125 

  • P : 91
  • SP : 13
  • BP : 23

CB 100 

  • P : 103
  • SP : 14
  • BP : 26

CB-100S 

  • P : 103.5
  • SP : 15
  • BP : 30

GL 125/ 145 

  • P : 103.5
  • SP : 15
  • BP : 30

Tiger 

  • P : 105.5
  • SP : 15
  • BP : 30


Yamaha
Yamaha crypton/ vega/ jupiter/ jupiter 110 

  • P : 92
  • SP : 13
  • BP : 26
Yamaha F 1z , robot
  • P : 
  • SP : 
  • BP : 20
Vega ZR 
  • P : 93.5
  • SP : 13
  • BP : 28

Mio/Nouvo/ Lele 

  • P : 93.5
  • SP : 15
  • BP : 28

MX / Vixion 

  • P : 97
  • SP : 14
  • BP : 28

Scorpio 

  • P : 100.5
  • SP : 16
  • BP : 30

Byson 

  • P : 98
  • SP : 15
  • BP : 28

Rx king



  • P : 100
  • SP : 20/ 16
  • BP : 22

Rx Z 

  • P : 105
  • SP : 20 /16
  • BP : 22

F-1zr 

  • P : 96
  • SP : 18/14
  • BP : 20

125 Z 

  • P : 110
  • SP : 20/16
  • BP : 22



Suzuki

SPIN

  • P:97
  • Sp:14
  • Bp:28

SUZUKI SHOGUN

  • P : 94
  • SP : 14
  • BP : 28

FD125XS/SHOGUN 

  • P : 102.7
  • SP :14
  • BP : 28

Raider/ FU 150 / FXR 150 

  • P : 102.5
  • SP : 16
  • BP : 30 


Kawasaki
Kawasaki Kaze 

  • P : 100
  • SP : 13
  • BP : 26

ZX 130 

  • P : 100, 2
  • SP : 13
  • BP : 22

NINJA 

  • P : 105
  • SP : 15
  • BP : 25

KR 150 

  • P : 104
  • SP : 19 
  • BP : 22




BAJAJ 
BAJAJ PULSAR 180 

  • P : 104
  • SP : 17
  • BP : 30
Fungsi Super Kips pada Ninja
  Apa yang kalian ketahui tentang super kips pada motor Kawasaki Ninja R?mulai tahun-tahun terakhir Kawasaki ninja mengadopsi sistem kips pada blok untuk pembuangannya.Untuk lebih jelasnya ku jabarkan dibawah ini.


Bentuk baru posisi gas buang

Sebuah innovasi yang jalankan untuk desain mesin dua Langkah(2TAK) demi menghasilkan sepeda motor yang ramah gas buang emisinya,Superkips jelas nyata mengurangi polusi udara dan menambah aspek kecepatan adalah dengan mengembangkan desain dari saluran buangnya(EX). Tiap-tiap merek produksi menghasilkan model-model yang mereka unggulkan. Banyak yang kita kenal,Antara lain yang ada pada Merk Honda dikenal adanya ATAC. Yamaha dengan YPVS-nya dan Kawasaki dengan KIPS(super kips)

KIPS (Kawasaki Integrated Powervalve system)

Super Kips adalah suatu system pemanfaatan katup yang mengatur penutupan dan pembukaan sebagian dari lubang pembuangan, agar pembuangan gas dari sisa pembakaran pada saat RPM tinggi dapat berlangsung lebih sempurna (katup membuka), sebaliknya juga pada RPM rendah akan menghindarkan terbuangnya campuran bensin-udara yang baru masuk ke ruang bakar dari karter (katup menutup). Katup ini akan berfungsi membuka pada saat RPM diatas 7000 hingga 8500.
0 sampai 7000 rpm : Katup KIPS tertutup 7000 sampai 8500 rpm : Katup KIPS terbuka
Sehingga efesiensi konsumsi bahan bakar lebih baik ( efesinsi volumetric )
Sehingga dapat menghasilkan tenaga yang stabil baik pada putaran mesin bawah maupun putaran mesin atas.





Merawat & Menangani Super KIPS Macet (Bag. 1)

Banyak keluhan mengenai macetnya "senjata" Ninja 150 ini. Jd aq pikir perlu dibahas langkah penanganannya secara detail, apalagi banyak ninjer yg msh newbie (bahkan ga bs bedain antara 2 tak & 4 tak... hahahaha... piss bro...).
Sebetulnya cara penanganannya sudah banyak di bahas di banyak trit. Di NC pun sebetulnya sudah ada Note yg membahas ini (baca Note: Solusi Super KIPS Macet...). Artikel kali ini hanya sedikit melengkapi dan menambahkan, terutama dg foto2 step by step, supaya bahkan newbie pun bisa melakukannya. Ini bukan b'maksud menggurui ya... kita saling berbagi pengalaman aja... kalo artikel ini msh ada kekurangan, mohon koreksinya...

Macetnya SKIPS bs terjadi di 2 hal:
1.  Macet di RPM bawah. Dg kata lain katup SKIPS ga mau kebuka. Klo udh gini ninin ga bakal mau lari... larinya ketahan di RPM sktr 7.000.
2.  Macet di RPM atas. Klo yg ini kejadian klo abis ngebut, katup SKIPS ga mau nutup lagi. Efeknya kebalikan yg diatas. Di RPM bawah ninin akan loyo... udh gitu suara knalpot jadi aneh... gede banget...
Tp yg jelas, mau macet di RPM atas kek atau bawah kek, pokoknya klo macet ya nyebelin...

Sblm aq ngebahas ttg bgmn cara perawatan dan penanganan SKIPS macet, ada bbrp tips yg bs dilakukan sblm kita bongkar SKIPSnya (inipun juga sudah sering dibahas sebetulnya, tp gpp cuma sekedar pengingat aja):
1.  Pake oli samping minimal JASO FC & semi sintetik. (Ini udh dibahas di bbrp Note NC sblmnya... silakan digebet ulang)
2.  Sering geber sampe RPM >7.000, baik saat manasin maupun saat udh jln.
      Kalo aq sendiri sih ga prnh geber2 gas pas manasin mesin. Bukan apa2. Takut ditimpuk tetangga... Aq manasin mesin 2-3 menit aja tanpa digeber2, abis itu jalan pelan2 keluar komplek (ini juga blm ngebut... takut diketapel ama Pak RT). Begitu msk jln raya, baru aq geber2 dikit ampe >RPM 7.000, abis itu siap deh buat ngebut (ama polisi juga ga takut... hahaha). Buat ninjer yg takut ngebut, bisa aja pasang persneling rendah, trus panteng RPMnya sampe 7.000-9.000 sbntr, yg penting katup SKIPS udh bekerja (tp aneh juga ya, beli ninja koq takut ngebut... hehehe).

Tapi itu hanya langkah preventif awal. Ada langkah preventif berikutnya, yaitu perawatan. Aq bagi jd 2: ringan dan berat. Tp jgn kuatir, walaupun berat tp newbie sekalipun msh bs nglakuin dg aman koq. Artikelnya pun aq bagi jadi 2 bagian: Bagian I (Utk penjelasan awal & langkah perawatan ringan) dan Bagian II (Langkah perawatan lanjutan).
Siapin peralatannya. Utk perawatan ringan minimal hrs ada: obeng plus, kunci ring 10, carb cleaner (cairan pembersih karburator, merk tserah, klo aq pake STP), chain lube (pelumas rantai atau pelumas semprot lainnya, merk tserah, klo aq pake MTR).
Untuk perawatan berat, peralatannya harus ditambah dg: kunci L 5, kunci ring 8, high temp grease (gemuk pelumas, merk tserah, klo aq pake Top1) & Coca Cola sekaleng (buat jaga2 kalo haus...).
Bagian I (perawatan ringan):
1.      Buka fairing kanan kiri (buat RR) pake obeng plus. Fotonya udh ada di Note NC "Cara Stel Oli Samping".
2.      Buka karet penutup SKIPS (warna hitam, di kanan atas mesin) - Gbr 1
3.      Pake kunci ring 10 di skrup batang pemutar katup SKIPS. Mainin ke kanan & ke kiri sambil semprotin carb cleaner ke bagian dalam rumah SKIPS (ke arah gigi2 mekanis) - Gbr 2 & Gbr 3.
4.      Klo pas deket situ ada tukang tambal ban, boleh juga tuh abis disemprot carb cleaner trus minta semprot angin ke rumah SKIPSnya buat ngusir kerak/debu/pasir.
5.      Tunggu sbntr ampe carb cleanernya kering. Abis itu semprot gigi2 mekanis SKIPS pake chain lube biar licin (spt di Gbr 3).
6.      Pasang lg karet penutup SKIPS & fairingnya.

Langkah ini mrpk langkah paling simpel, tp lumayan efektif utk mencegah SKIPS macet yg disebabkan krn penumpukan kerak/debu/pasir yg menyelinap ke gigi2 mekanisme SKIPS di rumah SKIPS. Bisa dilakukan seminggu atau 2 minggu sekali atau sesuai kebutuhan. Kerak/debu/pasir yg menempel itu bisa mengganjal gigi2 penggerak katup SKIPS yg menyebabkan gigi2 tsb ogah bergerak. Ini bisa dirontokkan pake carb cleaner. Kalo ga ada carb cleaner, WD40 boleh juga... tp jgn pake semprotan Baygon ya... emang mo ngusir nyamuk...

Langkah ini yg biasa dilakukan oleh mekanik bengkel resmi kalo pas service (itu juga klo dia ga lupa). Langkah ini juga mrpk langkah darurat klo pas lg di jalan & tiba2 SKIPS ngambek...

Klo pake langkah ini SKIPS msh macet juga, pake langkah perawatan lanjutan yg akan kita bahas di Bagian II, dimana kita akan bongkar mekanisme SKIPS (gigi2 dan valve).

Bersambung ke Bagian II...

NC Bayu
copot karet penutupcopot karet penutup
gerakin kunci ring 10 ke kanan & kirigerakin kunci ring 10 ke kanan & kiri
semprot pakesemprot pake WD

PENGERTIAN DAN CARA KERJA MESIN 4 TAK, 2 TAK

4 TAK

Four stroke engine adalah sebuah mesin dimana untuk menghasilkan sebuah tenaga memerlukan empat proses langkah naik-turun piston, dua kali rotasi kruk as, dan satu putaran noken as (camshaft).
Empat proses tersebut terbagi dalam siklus :
Langkah hisap : Bertujuan untuk memasukkan kabut udara – bahan bakar ke dalam silinder.  Sebagaimana tenaga mesin diproduksi tergantung dari jumlah bahan-bakar yang terbakar selama proses pembakaran.
Prosesnya adalah ;
  1. Piston bergerak dari Titik Mati Atas (TMA) menuju Titik Mati Bawah (TMB).
  2. Klep inlet terbuka, bahan bakar masuk ke silinder
  3. Kruk As berputar 180 derajat
  4. Noken As berputar 90 derajat
  5. Tekanan negatif piston menghisap kabut udara-bahan bakar masuk ke silinder
—————————————————————————————————————————————–
LANGKAH KOMPRESI
Langkah Kompresi
Langkah Kompresi
Dimulai saat klep inlet menutup dan piston terdorong ke arah ruang bakar akibat momentum dari kruk as dan flywheel.
Tujuan dari langkah kompresi adalah untuk meningkatkan temperatur sehingga campuran udara-bahan bakar dapat bersenyawa. Rasio kompresi ini juga nantinya berhubungan erat dengan produksi tenaga.
Prosesnya sebagai berikut :
  1. Piston bergerak kembali dari TMB ke TMA
  2. Klep In menutup, Klep Ex tetap tertutup
  3. Bahan Bakar termampatkan ke dalam kubah pembakaran (combustion chamber)
  4. Sekitar 15 derajat sebelum TMA , busi mulai menyalakan bunga api dan memulai proses pembakaran
  5. Kruk as mencapai satu rotasi penuh (360 derajat)
  6. Noken as mencapai 180 derajat
—————————————————————————————————————————————–
LANGKAH TENAGA
Langkah Tenaga
Langkah Tenaga
Dimulai ketika campuran udara/bahan-bakar dinyalakan oleh busi. Dengan cepat campuran yang terbakar ini merambat dan terjadilah ledakan yang tertahan oleh dinding kepala silinder sehingga menimbulkan tendangan balik bertekanan tinggi yang mendorong piston turun ke silinder bore. Gerakan linier dari piston ini dirubah menjadi gerak rotasi oleh kruk as. Enersi rotasi diteruskan sebagai momentum menuju flywheel yang bukan hanya menghasilkan tenaga, counter balance weight pada kruk as membantu piston melakukan siklus berikutnya.
Prosesnya sebagai berikut :
  1. Ledakan tercipta secara sempurna di ruang bakar
  2. Piston terlempar dari TMA menuju TMB
  3. Klep inlet menutup penuh, sedangkan menjelang akhir langkah usaha klep buang mulai sedikit terbuka.
  4. Terjadi transformasi energi gerak bolak-balik piston menjadi energi rotasi kruk as
  5. Putaran Kruk As mencapai 540 derajat
  6. Putaran Noken As 270 derajat
—————————————————————————————————————————————–
LANGKAH BUANG
Exhaust stroke
Exhaust stroke
Langkah buang menjadi sangat penting untuk menghasilkan operasi kinerja mesin yang lembut dan efisien. Piston bergerak mendorong gas sisa pembakaran keluar dari silinder menuju pipa knalpot. Proses ini harus dilakukan dengan total, dikarenakan sedikit saja terdapat gas sisa pembakaran yang tercampur bersama pemasukkan gas baru akan mereduksi potensial tenaga yang dihasilkan.
Prosesnya adalah :
  1. Counter balance weight pada kruk as memberikan gaya normal untuk menggerakkan piston dari TMB ke TMA
  2. Klep Ex terbuka Sempurna, Klep Inlet menutup penuh
  3. Gas sisa hasil pembakaran didesak keluar oleh piston melalui port exhaust menuju knalpot
  4. Kruk as melakukan 2 rotasi penuh (720 derajat)
  5. Noken as menyelesaikan 1 rotasi penuh (360 derajat)
—————————————————————————————————————————————–
FINISHING PENTING — OVERLAPING
Overlap adalah sebuah kondisi dimana kedua klep intake dan out berada dalam possisi sedikit terbuka pada akhir langkah buang hingga awal langkah hisap.
Berfungsi untuk efisiensi kinerja dalam mesin pembakaran dalam. Adanya hambatan dari kinerja mekanis klep dan inersia udara di dalam manifold, maka sangat diperlukan untuk mulai membuka klep masuk sebelum piston mencapai TMA di akhir langkah buang untuk mempersiapkan langkah hisap. Dengan tujuan untuk menyisihkan semua gas sisa pembakaran, klep buang tetap terbuka hingga setelah TMA. Derajat overlaping sangat tergantung dari desain mesin dan seberapa cepat mesin ini ingin bekerja.
manfaat dari proses overlaping :
  1. Sebagai pembilasan ruang bakar, piston, silinder dari sisa-sisa pembakaran
  2. Pendinginan suhu di ruang bakar
  3. Membantu exhasut scavanging (pelepasan gas buang)
  4. memaksimalkan proses pemasukkan bahan-bakar
2 TAK

Mesin dua tak adalah mesin pembakaran dalam yang dalam satu siklus pembakaran terjadi dua langkah piston, berbeda dengan putaran empat-tak yang mempunyai empat langkah piston dalam satu siklus pembakaran, meskipun keempat proses (intake, kompresi, tenaga, pembuangan) juga terjadi.
Mesin dua tak juga telah digunakan dalam mesin diesel, terutama rancangan piston berlawanan, kendaraan kecepatan rendah seperti mesin kapal besar, dan mesin V8 untuk truk dan kendaraan berat lainnya.
Animasi cara kerja mesin dua tak.

Prinsip kerja

Untuk memahami prinsip kerja, perlu dimengerti istilah baku yang berlaku dalam teknik otomotif :
  • TMA (titik mati atas) atau TDC (top dead centre), posisi piston berada pada titik paling atas dalam silinder mesin atau piston berada pada titik paling jauh dari poros engkol (crankshaft).
  • TMB (titik mati bawah) atau BDC (bottom dead centre), posisi piston berada pada titik paling bawah dalam silinder mesin atau piston berada pada titik paling dekat dengan poros engkol (crankshaft).
  • Ruang bilas yaitu ruangan dibawah piston dimana terdapat poros engkol (crankshaft), sering disebut dengan bak engkol (crankcase) berfungsi gas hasil campuran udara, bahan bakar dan pelumas bisa tercampur lebih merata.
  • Pembilasan (scavenging) yaitu proses pengeluaran gas hasil pembakaran dan proses pemasukan gas untuk pembakaran dalam ruang bakar.

Langkah kesatu

Piston bergerak dari TMA ke TMB.
  1. Pada saat piston bergerak dari TMA ke TMB, maka akan menekan ruang bilas yang berada di bawah piston. Semakin jauh piston meninggalkan TMA menuju TMB, tekanan di ruang bilas semakin meningkat.
  2. Pada titik tertentu, piston (ring piston) akan melewati lubang pembuangan gas dan lubang pemasukan gas. Posisi masing-masing lubang tergantung dari desain perancang. Umumnya ring piston akan melewati lubang pembuangan terlebih dahulu.
  3. Pada saat ring piston melewati lubang pembuangan, gas di dalam ruang bakar keluar melalui lubang pembuangan.
  4. Pada saat ring piston melewati lubang pemasukan, gas yang tertekan dalam ruang bilas akan terpompa masuk dalam ruang bakar sekaligus mendorong gas yang ada dalam ruang bakar keluar melalui lubang pembuangan.
  5. Piston terus menekan ruang bilas sampai titik TMB, sekaligus memompa gas dalam ruang bilas masuk ke dalam ruang bakar

Langkah kedua

Piston bergerak dari TMB ke TMA.
  1. Pada saat piston bergerak TMB ke TMA, maka akan menghisap gas hasil percampuran udara, bahan bakar dan pelumas masuk ke dalam ruang bilas. Percampuran ini dilakukan oleh karburator atau sistem injeksi. (Lihat pula:Sistem bahan bakar)
  2. Saat melewati lubang pemasukan dan lubang pembuangan, piston akan mengkompresi gas yang terjebak dalam ruang bakar.
  3. Piston akan terus mengkompresi gas dalam ruang bakar sampai TMA.
  4. Beberapa saat sebelum piston sampai di TMA, busi menyala untuk membakar gas dalam ruang bakar. Waktu nyala busi sebelum piston sampai TMA dengan tujuan agar puncak tekanan dalam ruang bakar akibat pembakaran terjadi saat piston mulai bergerak dari TMA ke TMB karena proses pembakaran sendiri memerlukan waktu dari mulai nyala busi sampai gas terbakar dengan sempurna.

Perbedaan desain dengan mesin empat tak

  • Pada mesin dua tak, dalam satu kali putaran poros engkol (crankshaft) terjadi satu kali proses pembakaran sedangkan pada mesin empat tak, sekali proses pembakaran terjadi dalam dua kali putaran poros engkol.
  • Pada mesin empat tak, memerlukan mekanisme katup (valve mechanism) dalam bekerja dengan fungsi membuka dan menutup lubang pemasukan dan lubang pembuangan, sedangkan pada mesin dua tak, piston dan ring piston berfungsi untuk menbuka dan menutup lubang pemasukan dan lubang pembuangan. Pada awalnya mesin dua tak tidak dilengkapi dengan katup, dalam perkembangannya katup satu arah (one way valve) dipasang antara ruang bilas dengan karburator dengan tujuan :
    1. Agar gas yang sudah masuk dalam ruang bilas tidak kembali ke karburator.
    2. Menjaga tekanan dalam ruang bilas saat piston mengkompresi ruang bilas.
  • Lubang pemasukan dan lubang pembuangan pada mesin dua tak terdapat pada dinding silinder, sedangkan pada mesin empat tak terdapat pada kepala silinder (cylinder head). Ini adalah alasan paling utama mesin 4 tak tidak menggunakan oli samping.

Kelebihan dan kekurangan

Kelebihan mesin dua tak

Dibandingkan mesin empat tak, kelebihan mesin dua tak adalah :
  1. Mesin dua tak lebih bertenaga dibandingkan mesin empat tak.
  2. Mesin dua tak lebih kecil dan ringan dibandingkan mesin empat tak.
    • Kombinasi kedua kelebihan di atas menjadikan rasio berat terhadap tenaga (power to weight ratio) mesin dua lebih baik dibandingkan mesin empat tak.
  3. Mesin dua tak lebih murah biaya produksinya karena konstruksinya yang sederhana.
Meskipun memiliki kelebihan tersebut di atas, jarang digunakan dalam aplikasi kendaraan terutama mobil karena memiliki kekurangan.

Kekurangan mesin dua tak

Kekurangan mesin dua tak dibandingkan mesin empat tak
  1. Efisiensi mesin dua tak lebih rendah dibandingkan mesin empat tak.
  2. Mesin dua tak memerlukan oli yang dicampur dengan bahan bakar (oli samping/two stroke oil) untuk pelumasan silinder mesin.
    • Kedua hal di atas mengakibatkan biaya operasional mesin dua tak lebih tinggi dibandingkan mesin empat tak.
  3. Mesin dua tak menghasilkan polusi udara lebih banyak, polusi terjadi dari pembakaran oli samping dan gas dari ruang bilas yang terlolos masuk langsung ke lubang pembuangan.
  4. Pelumasan mesin dua tak tidak sebaik mesin empat tak, mengakibatkan usia suku cadang dalam komponen ruang bakar relatif lebih rendah.

MENENTUKAN DIAMETER KLEP


                Menetukan diameter klep.              

Menetukan diameter inlet atau lubang isap pada skubek, semisal di kelas 150 cc tenaga puncaknya sekitar di 9500 rpm. Peak power tidak tidak di rpm 11.500 atau 14.000. Mesin skubek korekan terkini, peak power rata-rata berada di 9.500 rpm.            

Angka keramat itu ada hubungan dalam penentuan besar diameter klep. Rumusnya dijabarkan dalam buku four stroke performance tuning karya A. Graham Bell. Yaitu:  

CVx rpm Va    =  GS x K  

ket: Va = Luas klep dalam inci
CV = Volume silinder dalam cc
Rpm = rpm letak peak
K = konstanta, mesin 2 klep 5.900 dn 5.400 mesin4T
klep. GS = Gas Speed ft/sec         

Besarnya tergantung penggunaan mesin dan bentuk ruang bakar. Mesin fullrace ruang bakar bathtub 230-240 ft/sec. Jenis pent roof dan hemi 260-280 ft/sec dan wedge 240-255 ft/sec. Mengenai bentuk ruang bakar akan ditulis pada bab berikutnya. Pasti ada.                
Kebanyakan untuk balap menggunakan jenis ruang bakar bathtub. Diambil Gs = 240 ft/sec. Mari coba menentukan diameter klep mesin 150 cc(CV), rpm peak power 9.500 , menggunakan 2 klep berarti K = 5.900.
Maka luas diameter klep isap yaitu:
Va = 150 x 9.500       
= 240 x 5.900 Va    = 1.425.000        
1.416.000 Va   = 1 inci²     Jika mau mencari jari-jari atau setengah diameter klep tinggal menggunakan rumus luas lingkar.     r = Va/3 ,14  
= 1 /3 ,14   =   0 ,56 inci.
Jika ingin konversi dalam satuan millimeter tinggal di kalikan 25 ,4. Maka r = 0 ,56 x 25 ,4 = 14 ,224 mm, Jadi diameter klep yaitu 14 ,224 x 2 = 28 ,5 mm. Ini contoh untuk skubek 150 cc dan peak power 9.500 rpm digunakan klep diameter 28 ,5 atau 29.
                    Cara papas noken as racing
cara papas noken as racing -  kali ini saya akan menulis artikel tentang cara papas noken as racing setelah sebelumnya saya menulis postingan cara setting karburator dan buat mtor mio drag 155 cc.
untuk modif kohar,,modif noken temasuk hal yang sangat mempengaruhi kecepatan motor ..


Terkadang kita malas belajar hitung derajat durasi kem/noken as pada korek mesin 4-tak. Umumnya hanya pahami perubahan hitungan buka-tutup klep pada mata sproket keteng atau gigi sentrik.
chamshaft
Kerugiannya, hitungan itu sulit dipahami ukurannya. Terutama untuk kepentingan riset lanjut ke bagian lain, seperti knalpot atau pengapian. Juga dianggap kurang presisi lantaran mata gir ukurannya gede.
Otomatis, riset akan berjalan serba meraba. Makanya, lebih bagus jika ada hitungan derajat yang mudah dimengerti banyak orang.
Maksudnya, hitungan derajat itu memudahkan patokan riset bagian lain dengan mudah. Misal, mau pasang kurva pengapian X karena butuh untuk durasi yang relatif panjang Y derajat. Beda dengan kalau patokannya buka di X mata setelah TMA dan nutup Y mata sebelum TMA.
Nah,cara sederhana hitung derajat dengan membaca buka-tutup di gigi sentrik. Meski enggak presisi benar, tapi paling tidak kita bisa pahami dan ambil patokan dalam riset.

Cara Pertama, Bagi dulu 360 derajat dengan jumlah mata pada gigi sentrik. Maka akan ketemu patokan nilai setiap mata gigi itu berapa derajat.
Coba kita simulasikan di Honda Supra. Jumlah mata gigi sproket keteng ada 28 mata. Maka 360/28=12,85. Dibulatin jadi 13 derajat.
Sebelum lanjut, sepakati dulu yang akan dihitung adalah durasi putaran kem. Beda dengan hitung durasi putaran poros engkol atau crank-saft. Karena, dua kali putaran poros engkol sama dengan satu kali putaran kem.
Memakai asumsi tadi, maka ketika kita coba bagi lingkaran gigi sentrik itu jadi empat quadran. Masing-masing kuadaran I, II, III, IV, maka 180 derajat dari posisi TMA akan ketemu TMA lagi. Demikian pula dengan posisi TMB.
Perlu disepakati pula cara hitung dari titik quadran itu. Biar mudah, klep out dihitung giginya di posisi setelah TMA. Baik buka maupun tutupnya.
Sehingga, untuk klep in dihitung giginya sebelum TMA atau sesudah TMB, dan nutup sebelum TMA atau sebelum TMB.
Misal, klep buang membuka 3 mata setelah TMA, artinya 3X13 = 39 derajat setelah TMA. Atau 51 derajat sebelum TMB> Kalau nutup 2 mata setelah TMA, maka bisa dihitung 2X13=26 derajat setelah TMA.
Berarti, durasinya kem buang (90-39) + 90 + 26 = 167 derajat. Kalau model kem kembar in dan out-nya, maka durasi total gabungan kem adalah 2 X 167 = 334 derajat. Begitu pula dengan durasi poros engkol yaitu 334 derajat.
Kalau hitungannya dari klep in, maka cara hitungannya adalah derajat bukaan sebelum TMA + 90 + gigi nutup. Misal, buka 4 mata sebelum TMA dan nutup 2 mata sebelum TMA, maka (4X13) + 90 + (2X13)= 52+90+26= 168 derajat.
Toleransi penggunaan mata gigi melesetnya lumayan jauh. Dibanding penggunaan derajat berkisar antara 1-5 derajat. Enggak bisa pastikan pas banget berada di posisi 1 mata, 0,5 mata atau 0,25 mata persis dan presisi mungkin.
Satu lagi, agar mudah, penghitungan dimulai dengan patokan kerenggangan klep 0, serta dihitung sejak 0,1 mm klep ngangkat. Jadi enggak menyulitkan dan enggak berbeda-beda ambil patokannya .
kerja utama dari noken as adalah untuk mengontrol waktu kapan klep membuka dan menutup. Dimana lobe intake dan lobe exhaust bekerja secara masing-masing. Jarak pemisah antar kedua lobe dinamakan Lobe Separation, karena diukur dalam derajat maka disebut Lobe Separation Angle (Sudut Pemisah Lobe). Lobe Separation diukur antara puncak intake lobe dengan puncak exhaust lobe. Pada dasarnya berada di area separuh dari derajat putaran kruk As antara puncak exhaust dengan puncak intake. Jika durasi tetap, memperbesar LSA sama dengan memperkecil Overlap, sebaliknya menyempitkan LSA memperbesar Overlap.
Bisanya, jika semua faktor tetap, melebarkan LSA menghasilkan kurva torsi yang rata dan lebih lebar yang bagus di RPM tinggi tapi membuat respon gas lambat,
Merapatkan LSA menghasilkan efek berlawanan, membuat torsi memuncak, mesin cepat teriak, namun rentang tenaga sempit.
Ada beberapa alasan merubah lobe separation untuk mempengaruhi performa mesin. Misal, jika kamu memakai setang piston relatif lebih panjang, kondisi ini membuat piston berada pada TMA lebih lama. Noken as dengan LSA lebar mungkin akan lebih cocok untuk situasi ini.
OVERLAP merupakan waktu dimana dalam hitungan durasi kruk As, klep intake dan exhaust terbuka bersamaan. Terjadi di akhir langkah buang dimana klep Ex menutup dan diawal langkah hisap dimana klep In mulai membuka. Selama periode Overlaping, port Ex dan port In dapat “berkomunikasi” satu sama lain. Idealnya, kamu ingin menghasilkan efek agar kabut bersih di Intake Port tersedot masuk ke ruang bakar oleh bantuan kevakuman port Ex sehingga pengisian silinder dapat lebih efisien. Desain cam dan kombinasi porting yang jelek akan menghasilkan efek sebaliknya, dimana gas buang menyusup masuk melewati klep In terus ke dalam porting Intake.
Beberapa faktor mempengaruhi seberapa banyak overlapping yang ideal pada mesinmu. Ruang bakar yang kecil biasanya butuh overlap yang sedikit saja, dikarenakan didesain untuk memaksimalkan Torsi di RPM rendah. Kebanyakan mesin balap saat ini bergantung pada putaran mesin tinggi untuk memaksimalkan gear rasio, sehingga overlap yang banyak justru membantu. Ketika RPM melonjak, klep in membuka dan menutup semakin cepat. Jumlah udara dan bahan bakar yang besar harus dapat dimasukkan ke ruang bakar dalam waktu yang singkat, oleh karenanya meningkatkan durasi overlap membantu di proses ini.
Setang piston / stroke yang panjang, menjadi mendadak popular di trek balap lurus, memiliki efek yang sama dengan hanya mengatur LSA. Karena piston bertahan di TDC semakin lama, ini membuat ruang bakara seakan mengecil untuk menerima pasokan udara/bahan bakar. Karena itu, overlap yang lebih sedikit mampu mengisi ruang bakar lebih baik. Selain mengurangi kevakuman dan potensi gas membalik, kebanyakan Overlaping dalam mesin balap menghasilkan gas yang tidak terbakar langsung menuju pipa knalpot, membuat mesin rakus bahan bakar. Untuk kebanyakan balap jarak pendek, ini tidak menjadi masalah. Tapi jika kamu sedang balap dengan jarak tempuh tinggi atau jumlah lap banyak hal ini akan memperbanyak waktu masuk pitstop.
DURATION adalah waktu yang diukur dalam derajat putaran kruk As, dimana –baik klep In maupun Ex- sedang terbuka.
Saat putaran mesin meningkat, mesin seringkali mencapai poin dimana kesulitan mengisi silinder dengan pasokan udara/bahan-bakar dalam waktu singkat saat klep in terbuka. Hal yang sama terjadi saat ingin membuang gas sisa pembakaran. Jawaban singkat atas masalah ini, buat klep In membuka lebih lama, yang berarti memperbesar durasinya. Untuk memaksimalkan aliran saat langkah buang, banyak desainer cam Extreme memulai klep membuka medekati posisi saat piston berada di tengah-tengah langkah Usaha. Ini terlihat akan mengurangi tenaga yang dihasilkan, tapi idenya adalah membuat klep Ex sudah terbuka penuh saat piston berada di TMB akan melakukan langkah buang. Selama langkah usaha, ledakan bahan-bakar sudah menggunakan sekitar 80 % dari tenaga untuk menendang piston turun saat kruk as baru berputar 90 derajat atau saat piston berada di tengah proses turun. Separuhnya lagi member efek yang sedikit untuk meningkatkan tenaga, dan akan lebih baik jika dimanfaatkan untuk menbuang gas sisa pembakaran sehingga udara yang terhisap masuk akan lebih bersih nantinya.
LIFT V.S. DURATION V.S. ACCELERATIOn
Ini adalah pernyataan yang seringkali kita dengar: Klep paling efisien dalam mengalirkan udara (baik intake / exhaust) saat terbuka penuh. Kita harus membuang jauh pikiran itu. Karena pernyataan itu berarti memberitahu kita bahwa untuk menghasilkan performa mesin maksimal, waktu proses klep terangkat maupun saat turun adalah sia-sia belaka. Seakan-akan klep harus terbuka penuh dalam waktu cepat untuk menghasilkan flow maksimum, sedangkan klep harus cepat menutup penuh untuk memampatkan kompresi.
Untuk mendekati proses ini kebanyakan Extreme Racing Cam menjadi memiliki profil lobe yang kelihatan konyol, sangat tajam sehingga membuka dan menutup klep dengan cepat. Ini membutuhkan perklep lebih kuat, serta bobot rocker arm yang ringan untuk menjaga kontrol klep, dan bahkan Engine Tuner serta Desainer Noken As masih mencari cara konyol untuk membuka klep lebih cepat lagi.
Cam yang super agresiv dengan lift tinggi memungkinkan kamu memperpendek durasi pada situasi tertentu, dimana memang dapat membantu tenaga. “Agresif Ramp membantu klep untuk mencapai puncak maksimum velocity lebih dini, memungkinkan lebih banyak area untuk durasi. Mesin dengan airflow terbatas (karburator kecil) kelihatan sangat menyukai profil yang agresif. Seakan-akan ini meningkatkan sinyal untuk mendapatkan pasokan melewati batasan venturi tersebut. Waktu klep menutup balik dengan cepat yang berarti memperpendek durasi klep in menutup akan menghasilkan tekanan silinder lebih dahsyat.
Akselerasi Ramp profil cam harus diperhatikan berdasarkan rocker arm masih menggunakan plat datar atau telah memakai roller. Roller lebih mampu menerima akselerasi tinggi dibandingkan rocker arm konvensional, sehingga gejala floating mampu diminimalkan.
DURASI PADA 1 mm
Satu hal yang membuat pusing banyak engineer adalah pabrikan noken as mencantumkan durasi yang tidak jelas. Karena durasi yang diiklankan berbeda dengan durasi saat noken as Di dial di mesin. Masalahnya banyak pabrikan memakai banyak patokan untuk mengukur durasi. Oleh karenanya kita harus terbiasa memiliki standard saat bicara durasi noken As, patokan angkatan klep 1mm adalah yang dipakai dunia Internasional.
Biasanya, klep belum mulai mengalirkan udara secara baik hingga mencapai angkatan tertentu. Juga, perbedaan dalam hempasan noken as membuat semakin sulit untuk mengukur momen klep mulai terangkat dari seating klep. Akhirnya, durasi pada 1mm dari lobe lift lebih mudah diukur dan membuat hidup semua orang lebih mudah dalam menyeting cam timing di busur derajat. Lebih mudah mengukur durasi 1mm daripada harus mencari tahu kapan klep benar-benar mulai terangkat. Saat memakai busur derajat dan dial indicator, disini jauh lebih presisi untuk menentukan durasi saat dial indicator menunjuk lift 1mm dibandingkan durasi saat lift baru 0.10mm misalnya.”
ADVANCE V.S RETARD CAM
Dengan setingan timing cam special, kamu dapat merubah sudut noken as relative terhadap kruk As. Memutar cam maju membuat event bukaan klep terjadi lebih cepat, ini dinamakan Advance. Retard adalah kebalikannya. Yang perlu diperhatikan batasan memajukan noken as adalah 4 derajat saja. Kebanyakan mesin merespon lebih baik dengan sedikit advance. Seakan-akan mempercepat intake membuka dan menutup. Semakin cepat intake menutup maka menambah tekanan silinder sehingga respon mesin akan lebih bagus. Memajukan cam akan menambah torsi di RPM bawah, tapi jika mesinmu sekarat sebelum finish, maka memundurkan cam akan membantu menambah sedikit tenaga di putaran atas.
Beberapa informasi yang kita berikan perlu digali lebih dalam lagi, namun jangan khawatir. Berikut adalah tabel indicator perubahan cam dan efek yang biasanya dihasilkan. Perlu diingat, setiap paket mesin adalah berbeda, sehingga hasilnya dapat bervariasi. Ini hanyalah petunjuk umum saja.
Cam Change: Typical effect
Menambah LSA: Powerband lebih lebar, Power memuncak, Stasioner lembut
Mengurangi LSA: Meningkatkan Torsi menengah, Akselerasi cepat, Powerband lebih sempit.
Durasi Tinggi: Menggeser rentang tenaga lebih ke RPM atas
Durasi Rendah: Menambah Torsi putaran bawah
Overlaping Banyak: Meningkatkan sinyal ke Karburator, Boros konsumsi bahan-bakar, rawan dorongan balik
Overlaping Sedikit: Meningkatkan Respon RPM bawah, Irit bahan bakar, rawan suhu mesin lebih panas
DESAIN LOBE (bubungan noken as)
Suatu bubungan dari sebuah cam, untuk tiap klep, memiliki banyak variable. Cam lobe bukan hanya mengatur lift dan kapan membuka atau menutup, tapi juga speed, akselerasi, overlap, dan bahkan sanggup mengontrol seberapa banyak tekanan kompresi di ruang bakar yang diatur dari kecepatan noken as. Beberapa bagian dari desain lobe sebuah cam sangat penting diperhatikan untuk memperoleh ini semua.

BASE CIRCLE
 (Lingkar Dasar) adalah istilah untuk sisi berlawanan dari bubungan noken as. Ketika rocker arm menempel pada base circle cam, klep seharusnya tetap tertutup. Ukuran dari Base circle mempengaruhi lift cam. Semakin kecil base circle memungkinkan lift lebih tinggi, tapi hal ini juga rawan menjadikan noken as “lentur” dan timing menjadi melompat.
RAMPS adalah bagian dari lobe dimana lifter bergerak naik atau berakhir menutup. Setiap lobe memiliki dua area Ramp, opening dan closing. Pada racing camshaft, bentuk kurva area ramp, memiliki kecepatan dan akselerasi tinggi.
Bentuk lobe yang asimetris berarti memiliki kurva opening dan closing ramp yang tidak sama. Bertujuan memaksimalkan kecepatan klep dan kontrol, rocker arm diangkat dengan cara berbeda dengan proses menutupnya. Contoh, dalam aplikasi balap, umumnya akselerasi klep dibuka secepat mungkin, tapi kecepatan bukaan klep dilambatkan secara drastis saat mendekati puncak lift untuk mencegah Floating. Sedangkan pada sisi menutup, klep harus diturunkan dengan lembut untuk menjaga daya tahan daun klep. Cam dengan desain asimetris memungkinkan hal ini.
NOSE adalah area dimana klep terbuka secara penuh. Titik tertinggi lift disebut Lobe Centerline (Garis tengah lobe). Intake centerline diukur pada derajat kruk As setelah Titik Mati Atas (TMA) piston. Exhaust centerline ditunjukan oleh angka derajat posisi kruk As sebelum TMA. Kebetulan, posisi noken as selalu diukur dengan durasi relativitas derajat Kruk As karena ini semua menggambarkan dimana posisi piston serta siklus apa piston sedang bekerja (Hisap, Kompresi, Tenaga, atau Buang) inilah patokan awal desain cam.
LOBE LIFT adalah angka tinggi noken as mampu mengangkat rocker arm. Ini tidak sama dengan angkatan klep, karena rocker arm adalah pengungkin yang memiliki rasio tertentu mengatur bukaan klep. Lobe lift diukur dari diameter pada centerline dikurangi base circle.

sekian tips dari saya tentang korek noken dan terima kasih udah berkunjung ....